![]() |
| Kartini 2011 |
Kami adalah Bank Perkreditan Rakyat, dimana kami sebagai Lembaga Keuangan Bank yang melayani masyarakat dalam kebutuhan Kredit atau Tabungan & Deposito. Fokus utama kami adalah untuk UMKM.
because we care...
10 Mei 2011
Kartini 2011
Jumlah BPR Bertambah, Persaingan Ketat
Hal itu dikemukakan Pemimpin Bank Indonesia Semarang Ratna E Amiaty dalam sambutannya pada musyawarah komisariat (Muskom) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) Pati di Hotel Grand Mega Jalan Raya Tambakromo No 27 Cepu, Blora, Selasa (10/5).
’’Dengan kondisi ini, BPR harus merapatkan barisan karena persaingan usaha semakin ketat,’’ paparnya dalam sambutan yang dibacakan Pengawas Bank Madya Senior Bank Indonesia Semarang I Ketut Suena.
Salah satu upaya yang harus dilakukan agar BPR tetap eksis serta meningkatkan kualitas produk serta pelayanannya adalah dengan menjalin kerjasama dengan mitra terkait seperti Bank Umum, perusahaan, dan badan usaha di sekitar lokasi BPR.
’’Daya saing BPR harus ditingkatkan. Perkembangan jumlah kelembagaan BPR diharapkan bisa menjadi sarana untuk bersaing secara kompetitif, khususnya dalam menangani UMKM.’’
Tumbuh Bagus
Sementara itu, selain tumbuhnya KP BPR dan KC BPR di Jateng yang cukup tinggi, asetnya juga mengalami pertumbuhan yang bagus. Per Maret 2011, aset tumbuh sebesar Rp 1,82 triliun (19,39%) atau menjadi sebesar Rp 11,21 triliun.
Dana pihak ketiga juga mengalami kenaikan, yaitu Rp 7,81 triliun atau naik sebesar Rp 1,13 triliun (16,82%), dan kredit tumbuh sebesar Rp 1,09 triliun (14,14%). ’’Rasio Non Performing Loans (NPLs) BPR posisi Maret 2011 sebesar 8,06% membaik dibanding tahun sebelumnya, namun masih di atas ketentuan yang berlaku,’’ jelas Ratna.
Sementara Bupati Blora Djoko Nugroho mengatakan, fenomena menjamurnya BPR di Indonesia, khususnya di Karesidenan Pati, diharapkan mampu menjembatani kepentingan masyarakat dalam pengadaan modal usaha.
’’Pada kondisi ini, BPR akhirnya mampu mendorong lahirnya masyarakat yang mencetak usaha produktif, sehingga masyarakat ke depan tidak akan sekadar menjadi masyarakat konsumtif semata,’’ paparnya. (H61-77)
Source : Suara Merdeka Cybernews 11 Mei 2011
04 Mei 2011
07 Februari 2011
07 Januari 2011
Promo 2011

PERSYARATAN UMUM :
Jaminan :
Kendaraan Roda 2 atau 4
Sertifikat Hak Milik
Angsuran 1 dibayar dimuka
FC KTP,KK,BPKB,STNK,NJOP/PBB
FC Rek.Listrik/Telpon
Slip Gaji (Karyawan)
Kwitansi Pembelian (u/ jaminan kendaraan bermotor)
14 Desember 2010
17 Agustus 2010
Tantangan Setelah Kinerja Tumbuh
Total aset BPR per Februari 2010 menunjukkan pertumbuhan 17,71% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Bagaimana dengan aset BPR pada triwulan pertama 2010?
SUDAH sewajarnya jika pelaku bisnis bank perkreditan rakyat (BPR) bersyukur. Pasalnya, di tengah guncangan krisis global sepanjang tahun lalu, kinerja BPR masih mencatatkan pertumbuhan.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), kredit yang disalurkan BPR pada 2009 meningkat dari Rp25,47 triliun pada 2008 menjadi Rp28 triliun. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) naik dari Rp21,34 triliun per Desember 2008 menjadi Rp25,55 triliun pada 2009. Di sisi lain, laba tahun berjalan melonjak dari Rp849 miliar menjadi Rp1,15 triliun.
Padahal, pada tahun lalu kinerja BPR sempat tertekan. Per Agustus 2009, misalnya, laba BPR nyaris tidak tumbuh, dengan persentase -2,12% secara year on year (yoy). Meski jika dicermati, laba pada Agustus tahun lalu tersebut meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, kredit BPR hanya tumbuh sedikit 8,73% (yoy). Kendati, BPR masih bisa menaikkan asetnya.
Aset BPR per Desember 2009 sebesar Rp37,55 triliun atau naik dari posisi akhir 2008 sebesar Rp32,53 triliun. Dalam lima tahun terakhir, aset BPR memang tumbuh cukup signifikan. Sepanjang 2005 hingga 2009 aset BPR tumbuh 84,15%, dengan rata-rata pertumbuhan 16,83%.
Bagaimana dengan pertumbuhan aset BPR selama triwulan pertama 2010? Meningkatnya aset BPR pada akhir tahun lalu sepertinya bukan jaminan bahwa pada periode berikutnya aset BPR trennya akan terus meningkat. Faktanya, dalam tiga bulan pertama 2010 aset BPR terus bergerak fluktuatif. Pada Januari 2010 aset BPR hanya tumbuh 0,90% dari akhir tahun lalu. Namun, hal itu tak lantas membuat BPR patah semangat. Buktinya pada bulan berikutnya, Februari, BPR mampu menggenjot pertumbuhan asetnya hingga 1,56%. Namun, BPR rupanya tidak mampu meningkatkan atau menjaga pertumbuhannya, paling tidak di level yang sama karena pada Maret pertumbuhan aset BPR tidak jauh lebih baik daripada bulan sebelumnya. Malah, lebih kecil dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 1,06%.
Apa yang menyebabkan aset BPR berfluktuasi? Ada beberapa catatan penting terkait dengan kinerja BPR. Dalam kurun waktu yang sama, yakni triwulan pertama 2010, pertumbuhan kredit BPR juga tidak kencang. Padahal, besarnya kredit memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pertumbuhan asetnya. Per Januari kredit BPR hanya tumbuh 1,18%. Pada Februari sempat naik menjadi 1,81%, namun bulan berikutnya menurun lagi menjadi 1,74%.
Untuk menopang pertumbuhan kredit, paling tidak DPK BPR harus cukup kuat. DPK BPR dari Desember 2009 hingga Maret tahun ini justru terus melemah. Per Maret pertumbuhan DPK-nya hanya 1,49%. Padahal, pada awal 2010 DPK BPR sempat menyentuh 2,06%.
Pertumbuhan DPK tersebut didominasi deposito. Karena itu, dana BPR menjadi mahal. Imbasnya, suku bunga kredit BPR menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan bank umum. Jadi, wajar jika kemudian konsumen lebih memilih mengambil kredit di bank umum ketimbang BPR.
Belum lagi jika berbicara mengenai linkage program antara bank umum dan BPR. Selama ini ada kecenderungan BPR memanfaatkan program ini untuk menopang pengucuran kreditnya. Meski tidak semua dana dari linkage disalurkan untuk kredit, strategi ini lagi-lagi membuat suku bunga kredit BPR menjadi lebih mahal.
Mahalnya suku bunga kredit BPR bisa jadi salah satu penghambat pertumbuhan kredit BPR. Namun, tentu hal ini bukan satu-satunya alasan. Masih ada beberapa faktor lain, misalnya soal inovasi produk yang tidak sekencang industri keuangan lain, yang menyebabkan daya saing BPR kalah dibandingkan dengan yang lain. Masalah teknologi yang kurang menjadi perhatian BPR juga bisa menjadi catatan tersendiri.
Tantangan yang lebih berat bagi BPR saat ini mungkin menghadapi bank umum di pasar mikro karena tidak sedikit bank umum yang tertarik terjun ke bisnis mikro. Tidak hanya bank lokal, tapi juga bank asing. Dari sisi kekuatan, strategi, inovasi, dan teknologi, bank umum tentu lebih mumpuni ketimbang BPR. BPR juga harus menghadapi kenyataan lain manakala Pegadaian juga ikut terjun ke ranah BPR.
(Sumber : www.infobanknews.com)
Daftar Angsuran

